Desain yang baik vs desain yang benar
“Saya ingin desain situs yang bagus. Homepage pake slidshow, image nya kita pakai ini, ini, dan ini. warnanya pake biru. agak tua-an aja ya.” dst. Itu adalah pesan dari kebanyakan klien pada saat awal order jasa yang kita tawarkan. Apakah model komunikasi proyek seperti ini efektif? Kita akan bahas plus minus dari dua macam model komunikasi proyek yang utama.
Klien yang requirements spesifik
Seperti yang kita lihat di ilustrasi diatas, ini adalah gambaran seorang klien yang mempunyai project requirements yang spesifik. Warna, lebar, gradasi, fasilitas, semua dibahas dan ditentukan oleh klien di awal komunikasi sebuah proyek. Dari komunikasi proyek seperti ini, dapat kita simpulkan beberapa hal, antara lain :
1. Klien mengerti apa yang dia inginkan.
Klien dengan tipe seperti ini, sangat tahu apa yang dia inginkan, apa yang cocok untuk situsnya, dan menempatkan seorang desainer sebagai eksekutor dari konsep yang telah ia bangun. Dalam hal ini, ada dua kemungkinan. Klien benar – benar memahami apa yang terbaik untuk situsnya, atau klien tersebut -maaf- agak sok tahu dengan konsep desain.
2. Jika klien benar – benar memahami konsep desain.
Jika klien yang kita hadapi benar – benar memahami konsep desain, maka kita sebagai desainer akan menjadi eksekutor konsep, yang pada akhirnya proses kerja kita hanyalah bermain dengan tools semacam photoshop, tanpa ada proses brainstorming konsep desain. Efek dari keadaan seperti ini adalah desainer tidak akan mendapatkan reward yang layak untuk pekerjaan yang telah dikerjakan. Mengapa begitu? Karena dihadapan klien, desainer pada posisi ini tidak lebih menjadi sekedar “living photoshop”, tools yang bisa berbicara dan berkomunikasi.
3. Jika klien sok tahu dengan konsep desain.
Jika klien tidak memahami konsep desain, misalnya nafas yang dibawa warna, garis, kurva dan gradasi, maka jangan harap proyek yang dikerjakan akan berujung dengan manis. Ujung – ujungnya pasti sakit hati, karena apa yang kita kerjakan sama sekali bertentangan dengan idealisme desain yang kita pegang.
Kesimpulannya :
Take this kind of client at your own peril. Dari pengalaman penulis, tidak pernah ada rasa bangga atau puas dengan hasil pekerjaan dengan proses komunikasi proyek seperti ini. Bahkan dalam beberapa kasus, penulis berharap hubungan dengan klien yang seperti ini tidak pernah terjadi. Consider it as a nightmare. Merujuk pada judul post kali ini, proses seperti ini menghasilkan Desain yang Benar. Benar dalam hal ini adalah benar menurut klien. Bisa jadi kita terjerumus dalam posisi ABS, asal bos senang.
Klien dengan requirements yang kurang spesifik
Klien dengan requirements yang kurang spesifik, biasanya terjadi pada dua keadaan : Klien benar – benar tidak paham dengan konsep desain, atau klien sudah benar – benar percaya dengan service yang kita tawarkan. Untuk menangani klien semacam ini, ada beberapa treatment yang bisa kita lakukan, antara lain :
1. Business Approach
Lakukan pendekatan bisnis, yaitu proses brainstorming tentang bisnis yang akan kita kerjakan situsnya. Beberapa pertanyaan standar untuk pendekatan bisnis ini adalah :
- Bisnisnya bergerak di bidang apa
- Bagaimana bisnis tersebut bekerja
- Apakah bisnis tersebut punya rival
- Apakah bisnis tersebut sudah punya logo
- Apakah situs ini situs baru, atau redesign dari situs lama
- Apakah diperlukan fasilitas blog sebagai update berita yang berhubungan dengan situs
- Apakah diperlukan fasilitas social networking
- Dan lain lain
Semakin banyak yang kita tahu tentang bisnisnya klien, semakin terfokuslah konsep desain yang akan kita tawarkan. Dalam pertanyaan – pertanyaan tersebut diatas, kelihaian kita dalam melakukan brainstorming akan memperlihatkan bagaimana kita dihadapan klien. Misalnya, pada situs tertentu, ketika klien bilang “saya tidak memerlukan fasilitas social networking”, kita tidak serta merta bilang “OK”, namun kita dapat meyakinkan klien tentang nilai lebih dari social networking untuk pengembangan bisnis tersebut. Dengan begini, kita dapat mencitrakan diri kita sebagai seorang ahli, atau paling tidak “orang yang tahu apa yang dia lakukan”.
2. Membangun kepercayaan klien.
Pada komunikasi awal, kita jangan ragu – ragu untuk menawarkan solusi – solusi yang mungkin diambil oleh klien untuk pengembangan bisnisnya melalui situs yang akan kerjakan. Pun juga, kita tidak boleh ragu untuk menolak ide yang diajukan klien, jika ide tersebut tidak sesuai dengan konsep bisnis klien maupun konsep desain yang akan kita bangun. Dengan berproses seperti ini, Image kita akan naik, dan kita terhindar dari kesan “living photoshop” yang kita bahas sebelumnya.
3. Percaya dan tidak percaya
Ada kalanya, kita terjebak pada pemberian ide gratis dalam konsultasi yang kita berikan kepada klien, lalu kita ditinggalkan klien begitu saja. Itu adalah resiko kita. Jadi kita dihadapkan pada dua pilihan, percaya dan tidak percaya. Bagaimana mendeteksi klien yang bisa dipercaya atau tidak bisa dipercaya, akan kita bahas pada tulisan berikutnya.