Arief

Rachmansyah

  • Beranda
  • Inspirasi
  • Kerja Lepas
  • Marketing
  • refill semangat
  • About

Mendulang Dollar di istockphoto

Mar

22

Ditulis oleh ariefsyu

Kategori Inspirasi, Kerja Lepas Tags

Share

Mungkin temen2 designer udah tahu, atau bahkan udah pernah jalan di kerjaan model ini — vector stocks. intinya sih, designer bikin vector image dengan model / tema yang spesifik, misal bisnis, sport, keuangan, music, etc. vector image tsb kemudian kita “titipkan” di marketplace vector — misalnya istockphoto, shutterstock dan situs-situs sejenis.

How Much you will earn?

misal di istockphoto. standarnya sih, 1 vector file di jual oleh istockphoto.com senilai 10 istockcredit, yang setara dengan 10-15 usd. misalnya prosentase yang didapatkan oleh designer adalah 15% dari penjualan, maka at least, setiap kali terjual, designer mendapatkan 1,5 usd. peraturan lebih lengkap tentang bisa dicek di istockphoto.com.

1,5 usd? ya, cuma 1,5 usd. tapi, pertanyaan berikutnya, berapa kali kah sebuah vector terjual? sebuah package animal silhouette vector pack berisi 20 siluet anjing, dolphin, dll, ternyata telah terjual sebanyak >2200 kali. that’s means –> dari satu vector pack tsb designer udah dapat $3,300. itu kalau 1 vector pack. bagaimana kalo kita produktif banget? kita punya 100 vector pack yang dijual di istockphoto. dan, alhamdulillah, nasib nya sama semua, terjual 2200 kali semua. itu artinya. $330,000. whooooooo! mantab kan angka nya?

tapi tunggu dulu, ternyata ada semacam “jenjang karir” dari sebuah produk yang dijual di istockphoto. prosentase bagi hasil antara istockphoto dan designer vector berubah seiring dengan banyaknya penjualan. penjualan meningkat —> prosentase designer pun meningkat.

The Challenge

ngomongin yang enak – enak, itu tentunya pasti enak. tapi lama2 terkesan seperti “too good to be true” ato katanya mas tukul “too cool to be true”. designer2 yang udah eksis istockphoto tentunya udah melalui proses yang sangat panjang, pada setiap submission vector nya. tantangan – tantangan tersebut adalah :

IDEAS

vector yang mau di submit harus original dan tidak mempunyai kesamaan dengan salah satu vector yang udah exist di istockphoto. hal ini berarti designer harus bener – bener teliti dan cerdik dalam memilih konsep yang akan dikerjain. the best thing is — ketika designer membuat sebuah vector stock dengan sebuah konsep, dimana konsep tsb demand nya tinggi, sedangkan stok nya cuma dikit. ini seperti nemu sebongkah emas :)

RULES

tentang masalah “legal” dan technical, istockphoto menerapkan rule-rule yang strict. make sure to study their rules, otherwise your submission will be rejected.

Berakit-rakit ke hulu, berenang kemudian.

Membuat stock vector yang bagus tentunya membutuhkan proses penggalian ide, execution, dan finishing yang memakan waktu. sedangkan, jika udah ter-submit, masih butuh waktu pula untuk menunggu sebelum akhirnya terjual. that’s mean, designer harus siap untuk tidak mendapatkan income dulu ketika bekerja keras membuat stock vector. kerja semacam ini lebih tepatnya adalah investasi. kita baru menuai di kemudian hari apa yang kita pupuk hari ini.

semoga membantu! jika udah pernah main ginian, tolong share diskusinya ;)

One Response to “Mendulang Dollar di istockphoto”

  1. mr_ageng says:
    May 3, 2011 at 12:29 pm

    Mantap mas…artickel yang menarik..izin menyimak setulus hati :D

Leave a Reply

Click here to cancel reply.

  • Post Terakhir

    • Mini eBook : Mengubah klien biasa menjadi klien tetap
    • Mendulang Dollar di istockphoto
    • Desain yang baik vs desain yang benar
    • Pedagang Tangguh
    • Apa yang harus kita lakukan ketika idle menyerang
  • Komentar Terakhir

    • Ageng on Mini eBook : Mengubah klien biasa menjadi klien tetap
    • winkbiz on Panduan mendapatkan job di oDesk untuk coder / programmer
    • sambada on Mengalahkan Rasa Takut
    • mr_ageng on Mendulang Dollar di istockphoto
    • phohan on Panduan mendapatkan job di oDesk untuk coder / programmer
  • Free Downloadable eBook

    • Converting a Mere-Client into a Fixed-Client
  • semua tulisan ditulis oleh Arief Rachmansyah